komunikasi data dan jaringan
Minggu, 05 Februari 2012
Jumat, 23 Desember 2011
kel 12 (SUBNETTING IP VERSI 4)
Subnetting
adalah seperangkat teknik yang dapat Anda gunakan untuk secara efisien
membagi ruang alamat dari prefiks alamat unicast untuk alokasi di antara
subnet dari suatu jaringan organisasi. Alamat IP versi 4 (sering
disebut dengan Alamat IPv4) adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan
yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 4.
Panjang
totalnya adalah 32-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 4
miliar host komputer atau lebih tepatnya 4.294.967.296 host di seluruh
dunia, jumlah host tersebut didapatkan dari 256 (didapatkan dari 8 bit)
dipangkat 4(karena terdapat 4 oktet) sehingga nilai maksimal dari alamt
IP versi 4 tersebut adalah 255.255.255.255 dimana nilai dihitung dari
nol sehingga nilai nilai host yang dapat ditampung adalah
256x256x256x256=4.294.967.296 host. sehingga bila host yang ada
diseluruh dunia melebihi kuota tersebut maka dibuatlah IP versi 6 atau IPv6.
Subnetting memerlukan prosedur tiga langkah:
1. Tentukan berapa banyak bit host yang akan digunakan untuk subnetting.
2. Menghitung prefiks subnet alamat baru.
3. Menghitung Kisaran alamat IPv4 untuk setiap prefix subnet alamat baru.
Awalan routing dinyatakan dalam notasi CIDR . Hal ini ditulis sebagai alamat pertama dari jaringan diikuti dengan panjang bit-dari awalan, dipisahkan oleh karakter (/) slash.
Sebagai contoh, 192.168.1.0/24 adalah awalan dari Internet Protocol Version 4
jaringan dimulai pada alamat yang diberikan, memiliki 24 bit yang
dialokasikan untuk awalan jaringan, dan 8 bit sisanya dicadangkan untuk
host mengatasi.
Lalu lintas antara subnetwork yang dipertukarkan dengan komputer gerbang khusus yang disebut router , mereka merupakan batas logis atau fisik antara subnet
Tahun 1985 didefinisikan RFC 950 sebuah prosedur standar untuk mendukung subnetting, atau pembagian dari kelas A,B dan C.
Pengembangan dengan subnetting
Network Prefix
|
Host Number
|
Network Prefix
|
SubnetNumber
|
Host Number
|
Untuk merancang Subnetting, ada empat pertanyaan yang harus dijawab sebelum mendisain :
1. Berapa banyak total subnet yang dibutuhkan saat ini ?
2. Berapa banyak total subnet yang akan dibentuk pada masa yang akan datang ?
3. Berapa banyak host yang tersedia saat ini ?
- Berapa banyak host yang akan di diorganisasi dengan subnet dimasa yang akan datang ?
Langkah
pertama dalam proses perencanaan adalah menentukan jumlah maksimum dari
subnet dan bulatkan keatas untuk bil binary. Contoh, jika perusahaan
membutuhkan 9 subnet, 23 (atau 8) tidak akan cukup alamat subnet yang tersedia, jadi network administrator akan membulatkan ke atas menjadi 24
(atau 16). Mungkin jumlah 16 subnet ini tidak akan cukup untuk masa
yang akan datang, jadi network administrator harus mencari nilai
maksimum atau yang kira-kita memenuhi pada masa yang akan datang
misalnya 25 (atau 32).
Tahap kedua yakinkan bahwa jumlah alamat host yang kita buat memenuhi untuk masa-masa yang akan datang.
Contoh Subnet #1
Sebuah perushaan mempunyai nomor network 193.1.1.0/24 dan dibutuhkan 6 subnet. Besarnya subnet harus mendukung 25 host.
Penyelesaian.
Tahap
pertama kita harus ketahui berapa bit yang dibutuhkan 6 subnet, dicari
dengan melihat kelipatan dua (2,4,8,16,32,64,dst). Disini terlihat bahwa
untuk persis sama dengan 6 tidak ada kita harus pilih bilangan yang
atasnya (8) atau 23 ada 2 tersisa dapat digunakan untuk kebutuhan masa yang akan datang. Disini 23
berarti kita butuh 3 bit untuk membentuk extended subnet, contoh diatas
subnettingnya /24 berarti extendednya adalah /27 untuk jelasnya dapat
dilihat gambar di bawah ini.
193.1.1.0/24 = 11000001.00000001.00000001.00000000
255.255.255.224 = 11111111.11111111.11111111.11100000
27 Bit
27 bit extended network ini menyisakan 5 bit untuk mendefinisikan alamat host, berarti ada 25
(32) alamat IP yang dapat dibentuk tapi karena nilai 0 semua dan 1
semua tidak dapat dialokasi (untuk network dan broadcast) jadi yang
tersisa ada 30 ( 25-2) untuk masing-masing subnet.
Apabila kita uraikan satu-satu maka alamat subnet yang terbentuk adalah :
Alamat asal : 11000001.00000001.00000001.00000000 = 193.1.1.0/24
Subnet #0 : 11000001.00000001.00000001.00000000 = 193.1.1.0/27
Subnet #1 : 11000001.00000001.00000001.00100000 = 193.1.32.0/27
Subnet #2 : 11000001.00000001.00000001.01000000 = 193.1.64.0/27
Subnet #3 : 11000001.00000001.00000001.01100000 = 193.1.96.0/27
Subnet #4 : 11000001.00000001.00000001.10000000 = 193.1.128.0/27
Subnet #5 : 11000001.00000001.00000001.10100000 = 193.1.160.0/27
Subnet #6 : 11000001.00000001.00000001.11000000 = 193.1.192.0/27
Subnet #7 : 11000001.00000001.00000001.11100000 = 193.1.224.0/27
Untuk membudahkan bahwa perbedaan antara subnet satu dengan yang lainnya adalah kelipatan 32 : 0, 32, 64, 96 ...
Dari contoh diatas, ada 5 bit host number dalam satu subnet, berarti ada 25-2
= 30 host yang dapat dibentuk ini dikarenakan nilai 0 semua sigunakan
untuk alamat network dan nilai 1 semua digunakan untuk broadcast number.
Contoh untuk menentukan host dari satu subnet number
Subnet #2: 11000001.00000001.00000001.01000000 = 193.1.1.64/27
Host #1 : 11000001.00000001.00000001.01000001 = 193.1.1.65/27
Host #2 : 11000001.00000001.00000001.01000010 = 193.1.1.66/27
Host #3 : 11000001.00000001.00000001.01000001 = 193.1.1.65/27
Host #4 : 11000001.00000001.00000001.01000001 = 193.1.1.65/27
…..
s/d
Host #32 : 11000001.00000001.00000001.01011110 = 193.1.1.94/27
Bradcast Address untuk subnet diatas (#2) adalah :
11000001.00000001.00000001.01011111 = 193.1.1.95/27
Alamat host yang diperbolehkan pada subnet #6 adalah :
Subnet #6: 11000001.00000001.00000001.11000000 = 193.1.1.192/27
Host #1 : 11000001.00000001.00000001.11000001 = 193.1.1.193/27
Host #2 : 11000001.00000001.00000001.11000010 = 193.1.1.194/27
Host #3 : 11000001.00000001.00000001.11000011 = 193.1.1.195/27
Host #4 : 11000001.00000001.00000001.11000100 = 193.1.1.196/27
Host #5 : 11000001.00000001.00000001.11000101 = 193.1.1.197/27
......
s/d
Host #28 : 11000001.00000001.00000001.11011100 = 193.1.1.220/27
Host #29 : 11000001.00000001.00000001.11011101 = 193.1.1.221/27
Host #30 : 11000001.00000001.00000001.11011110 = 193.1.1.222/27
Alamat Broadcast untuk subnet #6 adalah :
11000001.00000001.00000001.11011111 = 193.1.1.223/27
Contoh Subnet #2
Sebuah
perusahaan merencanakan akan membangunan jaringan dengan network number
140.64.0.0/16 dan setiap subnet harus mendukung min 60 host.
Penyelesaian
Tahap
pertama kita tentukan berapa bit yang dibutuhkan untuk membentuk min 60
host dalam tiap subnet. Berarti 2 pangkat berapa ? supaya anda dapat
menyediakan min 60 host yaitu 62 (26-2 ) tapi kalau kita
lihat disini bahwa nilai 62 hanya mempunyai 2 host yang tersisa. Jadi
lebih baik apabila beri sisa yang kira-kira cukup untuk masa yang akan
datang, pangkatkan bil 2 tersebut dengan 7 menjadi 126 (27-2) dan sisa yang tersedia adalah 66 (126-60).
Tahap
selanjutnya karena yang diminta adalah jumlah host, maka seperti yang
kita ketahui bahwa network number/alamat IP memiliki 32 bit jadi 32
harus dikurangkan dengan 7 supaya kita ketahui extended network prefix
(32-7)=25. Disini dapat di ketahui penbambahan network prefix menjadi
/25 atau subnet masknya : 255.255.255.128 digambarkan seperti dibawah
ini.
140.64.0.0/16 = 10001100.01000000.00000000.00000000
255.255.255.128 = 11111111.11111111.11111111.10000000
Gambar diatas menunjukan 25 bit extended-network-prefix menghasilkan 9 bit subnet number. Berarti 29 = 512 subnet number yang dapat di bentuk. Network administrator dapat menentukan network/subnet mana yang akan diambil.
Untuk menjabarkannya dapat dilihat dibawah ini tanda tebal menunjukan 9 bit yang menentukan field subnet.
Base Net: : 10001100.01000000.00000000.00000000 = 140.64.0.0/16
Subnet #0 : 10001100.01000000.00000000.00000000 = 140.64.0.0/25
Subnet #1 : 10001100.01000000.00000000.10000000 = 140.64.0.128/25
Subnet #2 : 10001100.01000000.00000001.00000000 = 140.64.1.0/25
Subnet #3 : 10001100.01000000.00000001.10000000 = 140.64.1.128/25
Subnet #4 : 10001100.01000000.00000010.00000000 = 140.64.2.128/25
Subnet #5 : 10001100.01000000.00000010.10000000 = 140.64.0.128/25
....
....
Subnet #510 : 10001100.01000000.11111111.00000000 = 140.64.255.128/25
Subnet #511 : 10001100.01000000.11111111.10000000 = 140.64.255.128/25
Tujuan
dari pembuatan notasi titik dan pembuatan dalam bilangan biner adalah
untuk memudahkan pembaca dalam menentukan dan memahami pembuatan alamat
IP.
Untuk contoh diatas dapat kita tentukan nomor alamat IP perindividu yang dapat dibentuk adalah 126 (27-2) bernilai dari 1 sampai 126.
Misalnya kita ambil subnet #3 untuk perusahaan tersebut, dapat dibentuk host seperti berikut :
Subnet #3 : 10001100.01000000.00000001.10000000 = 140.64.1.128/25
Host #1 : 10001100.01000000.00000001.10000001 = 140.64.1.129/25
Host #2 : 10001100.01000000.00000001.10000010 = 140.64.1.130/25
Host #3 : 10001100.01000000.00000001.10000011 = 140.64.1.131/25
Host #4 : 10001100.01000000.00000001.10000100 = 140.64.1.132/25
Host #5 : 10001100.01000000.00000001.10000101 = 140.64.1.133/25
Host #6 : 10001100.01000000.00000001.10000110 = 140.64.1.134/25
..
..
Host #62 : 10001100.01000000.00000001.10111110 = 140.64.1.190/25
Host #63 : 10001100.01000000.00000001.10111111 = 140.64.1.191/25
Host #64 : 10001100.01000000.00000001.11000000 = 140.64.1.192/25
Host #65 : 10001100.01000000.00000001.11000001 = 140.64.1.193/25
...
...
Host #125 : 10001100.01000000.00000001.11111101 = 140.64.1.253/25
Host #126 : 10001100.01000000.00000001.11111110 = 140.64.1.254/25
Alamat Broadcast untuk subnet #3 adalah :
10001100.01000000.00000001.11111111 = 140.64.1.255/25
Sekarang
bagaimana apabila user yang ada dan yang terkoneksi ke jaringan lebih
dari 126 user ? Kita dapat menambah subnet dengan subnet yang keempat
atau yang lainnya tapi diantara keduanya harus dipasang router agar
kedua network terhubung.
(Alamat IP versi 6)
Alamat IP versi 6 (sering disebut sebagai alamat IPv6) adalah sebuah jenis pengalamatan jaringan yang digunakan di dalam protokol jaringan TCP/IP yang menggunakan protokol IP versi 6. Panjang totalnya adalah 128-bit, dan secara teoritis dapat mengalamati hingga 2128=3,4 x 1038 host komputer di seluruh dunia. Contoh alamat IP versi 6 adalah 21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A.
alamat
IPv6 memiliki panjang 128-bit. IPv4, meskipun total alamatnya mencapai 4
miliar, pada kenyataannya tidak sampai 4 miliar alamat, karena ada
beberapa limitasi, sehingga implementasinya saat ini hanya mencapai
beberapa ratus juta saja. IPv6, yang memiliki panjang 128-bit, memiliki
total alamat yang mungkin hingga 2128=3,4 x 1038
alamat. Total alamat yang sangat besar ini bertujuan untuk menyediakan
ruang alamat yang tidak akan habis (hingga beberapa masa ke depan), dan
membentuk infrastruktur routing yang disusun secara hierarkis, sehingga
mengurangi kompleksitas proses routing dan tabel routing.
Sama seperti halnya IPv4, IPv6 juga mengizinkan adanya DHCP Server sebagai pengatur alamat otomatis. Jika dalam IPv4 terdapat dynamic address dan static address, maka dalam IPv6, konfigurasi alamat dengan menggunakan DHCP Server dinamakan dengan stateful address configuration, sementara jika konfigurasi alamat IPv6 tanpa DHCP Server dinamakan dengan stateless address configuration.
Seperti
halnya IPv4 yang menggunakan bit-bit pada tingkat tinggi (high-order
bit) sebagai alamat jaringan sementara bit-bit pada tingkat rendah
(low-order bit) sebagai alamat host, dalam IPv6 juga terjadi hal
serupa. Dalam IPv6, bit-bit pada tingkat tinggi akan digunakan sebagai
tanda pengenal jenis alamat IPv6, yang disebut dengan Format Prefix (FP). Dalam IPv6, tidak ada subnet mask, yang ada hanyalah Format Prefix.
Pengalamatan IPv6 didefinisikan dalam RFC 2373.
·
|
Format Alamat
Dalam
IPv6, alamat 128-bit akan dibagi ke dalam 8 blok berukuran 16-bit, yang
dapat dikonversikan ke dalam bilangan heksadesimal berukuran 4-digit.
Setiap blok bilangan heksadesimal tersebut akan dipisahkan dengan tanda
titik dua (:). Karenanya, format notasi yang digunakan oleh IPv6 juga
sering disebut dengan colon-hexadecimal format, berbeda dengan IPv4 yang menggunakan dotted-decimal format.
Berikut ini adalah contoh alamat IPv6 dalam bentuk bilangan biner:
0010000111011010000000001101001100000000000000000010111100111011000000101010101000000000
1111111111111110001010001001110001011010
Untuk menerjemahkannya ke dalam bentuk notasi colon-hexadecimal format, angka-angka biner di atas harus dibagi ke dalam 8 buah blok berukuran 16-bit:
0010000111011010 0000000011010011 0000000000000000 0010111100111011 0000001010101010
0000000011111111 1111111000101000 1001110001011010
Lalu,
setiap blok berukuran 16-bit tersebut harus dikonversikan ke dalam
bilangan heksadesimal dan setiap bilangan heksadesimal tersebut
dipisahkan dengan menggunakan tanda titik dua. Hasil konversinya adalah
sebagai berikut:21DA:00D3:0000:2F3B:02AA:00FF:FE28:9C5A
Penyederhanaan bentuk alamat
Alamat di atas juga dapat disederhanakan lagi dengan membuang angka
0
pada awal setiap blok yang berukuran 16-bit di atas, dengan menyisakan satu digit terakhir. Dengan membuang angka 0
, alamat di atas disederhanakan menjadi: 21DA:D3:0:2F3B:2AA:FF:FE28:9C5A
Konvensi pengalamatan IPv6 juga mengizinkan penyederhanaan alamat lebih jauh lagi, yakni dengan membuang banyak karakter
0
, pada sebuah alamat yang banyak angka 0
-nya. Jika sebuah alamat IPv6 yang direpresentasikan dalam notasi colon-hexadecimal format mengandung beberapa blok 16-bit dengan angka 0
, maka alamat tersebut dapat disederhanakan dengan menggunakan tanda dua buah titik dua (:
).
Untuk menghindari kebingungan, penyederhanaan alamat IPv6 dengan cara
ini sebaiknya hanya digunakan sekali saja di dalam satu alamat, karena
kemungkinan nantinya pengguna tidak dapat menentukan berapa banyak bit 0
yang direpresentasikan oleh setiap tanda dua titik dua (:
) yang terdapat dalam alamat tersebut.
Tabel berikut mengilustrasikan cara penggunaan hal ini.
Alamat asli
|
Alamat asli yang disederhanakan
|
Alamat setelah dikompres
|
FE80:0000:0000:0000:02AA:00FF:FE9A:4CA2 | FE80:0:0:0:2AA:FF:FE9A:4CA2 | FE80::2AA:FF:FE9A:4CA2 |
FF02:0000:0000:0000:0000:0000:0000:0002 | FF02:0:0:0:0:0:0:2 | FF02::2 |
Untuk menentukan berapa banyak bit bernilai
0
yang dibuang (dan digantikan dengan tanda dua titik dua) dalam sebuah
alamat IPv6, dapat dilakukan dengan menghitung berapa banyak blok yang
tersedia dalam alamat tersebut, yang kemudian dikurangkan dengan angka
8, dan angka tersebut dikalikan dengan 16. Sebagai contoh, alamat FF02::2
hanya mengandung dua blok alamat (blok FF02
dan blok 2
). Maka, jumlah bit yang dibuang adalah (8-2) x 16 = 96 buah bit.Format Prefix
Dalam
IPv4, sebuah alamat dalam notasi dotted-decimal format dapat
direpresentasikan dengan menggunakan angka prefiks yang merujuk kepada subnet mask.
IPv6 juga memiliki angka prefiks, tapi tidak didugnakan untuk merujuk
kepada subnet mask, karena memang IPv6 tidak mendukung subnet mask.
Prefiks
adalah sebuah bagian dari alamat IP, di mana bit-bit memiliki
nilai-nilai yang tetap atau bit-bit tersebut merupakan bagian dari
sebuah rute atau subnet identifier. Prefiks dalam IPv6 direpesentasikan dengan cara yang sama seperti halnya prefiks alamat IPv4, yaitu [alamat]/[angka panjang prefiks].
Panjang prefiks menentukan jumlah bit terbesar paling kiri yang membuat
prefiks subnet. Sebagai contoh, prefiks sebuah alamat IPv6 dapat
direpresentasikan sebagai berikut:3FFE:2900:D005:F28B::/64
Pada
contoh di atas, 64 bit pertama dari alamat tersebut dianggap sebagai
prefiks alamat, sementara 64 bit sisanya dianggap sebagai interface ID.
Jenis-jenis Alamat IPv6
IPv6 mendukung beberapa jenis format prefix, yakni sebagai berikut:- Alamat Unicast, yang menyediakan komunikasi secara point-to-point, secara langsung antara dua host dalam sebuah jaringan.
- Alamat Multicast, yang menyediakan metode untuk mengirimkan sebuah paket data ke banyak host yang berada dalam group yang sama. Alamat ini digunakan dalam komunikasi one-to-many.
- Alamat Anycast, yang menyediakan metode penyampaian paket data kepada anggota terdekat dari sebuah group. Alamat ini digunakan dalam komunikasi one-to-one-of-many. Alamat ini juga digunakan hanya sebagai alamat tujuan (destination address) dan diberikan hanya kepada router, bukan kepada host-host biasa.
Jika dilihat dari cakupan alamatnya, alamat unicast dan anycast terbagi menjadi alamat-alamat berikut:
· Link-Local, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam satu subnet.
· Site-Local, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam sebuah intranet.
· Global Address, merupakan sebuah jenis alamat yang mengizinkan sebuah komputer agar dapat berkomunikasi dengan komputer lainnya dalam Internet berbasis IPv6.
Sementara itu, cakupan alamat multicast dimasukkan ke dalam struktur alamat.Unicast Address
Alamat IPv6 unicast dapat diimplementasikan dalam berbagai jenis alamat, yakni:
· Alamat unicast global
· Alamat unicast site-local
· Alamat unicast link-local
· Alamat unicast yang belum ditentukan (unicast unspecified address)
· Alamat unicast loopback
· Alamat unicast 6to4
· Alamat unicast ISATAP
Unicast global addresses
Alamat unicast global IPv6 mirip dengan alamat publik dalam alamat IPv4. Dikenal juga sebagai Aggregatable Global Unicast Address. Seperti halnya alamat publik IPv4 yang dapat secara global dirujuk oleh host-host di Internet dengan menggunakan proses routing, alamat ini juga mengimplementasikan hal serupa. Struktur alamat IPv6 unicast global terbagi menjadi topologi tiga level (Public, Site, dan Node).
Field
|
Panjang
|
Keterangan
|
001 |
3 bit
|
Berfungsi sebagai tanda pengenal alamat, bahwa alamat ini adalah sebuah alamat IPv6 Unicast Global.
|
Top Level Aggregation Identifier (TLA ID)
|
13 bit
|
Berfungsi sebagai level tertinggi dalam hierarki routing. TLA ID diatur oleh Internet Assigned Name Authority (IANA), yang mengalokasikannya ke dalam daftar Internet registry, yang kemudian mengolasikan sebuah TLA ID ke sebuah ISP global.
|
Res
|
8 bit
|
Direservasikan untuk penggunaan pada masa yang akan datang (mungkin untuk memperluas TLA ID atau NLA ID).
|
Next Level Aggregation Identifier (NLA ID)
|
24 bit
|
Berfungsi sebagai tanda pengenal milik situs (site) kustomer tertentu.
|
Site Level Aggregation Identifier (SLA ID)
|
16 bit
|
Mengizinkan hingga 65536 (216) subnet dalam sebuah situs individu. SLA ID ditetapkan di dalam sebuah site. ISP tidak dapat mengubah bagian alamat ini.
|
Interface ID
|
64 bit
|
Berfungsi sebagai alamat dari sebuah node dalam subnet yang spesifik (yang ditentukan oleh SLA ID).
|
Unicast site-local addresses
Alamat
unicast site-local IPv6 mirip dengan alamat privat dalam IPv4. Ruang
lingkup dari sebuah alamat terdapat pada Internetwork dalam sebuah site
milik sebuah organisasi. Penggunaan alamat unicast global dan unicast site-local dalam sebuah jaringan adalah mungkin dilakukan. Prefiks yang digunakan oleh alamat ini adalah
FEC0::/48
.
Field
|
Panjang
|
Keterangan
|
111111101100000000000000000000000000000000000000 |
48 bit
|
Nilai ketetapan alamat unicast site-local
|
Subnet Identifier
|
16 bit
|
Mengizinkan hingga 65536 (216)
subnet dalam sebuah struktur subnet datar. Administrator juga dapat
membagi bit-bit yang yang memiliki nilai tinggi (high-order bit) untuk
membuat sebuah infrastruktur routing hierarkis.
|
Interface Identifier
|
64 bit
|
Berfungsi sebagai alamat dari sebuah node dalam subnet yang spesifik.
|
Unicast link-local address
Alamat unicast link-local adalah alamat yang digunakan oleh host-host dalam subnet yang sama. Alamat ini mirip dengan konfigurasi APIPA (Automatic Private Internet Protocol Addressing) dalam sistem operasi Microsoft Windows XP ke atas. host-host yang berada di dalam subnet
yang sama akan menggunakan alamat-alamat ini secara otomatis agar dapat
berkomunikasi. Alamat ini juga memiliki fungsi resolusi alamat, yang
disebut dengan Neighbor Discovery. Prefiks alamat yang digunakan oleh jenis alamat ini adalah
FE80::/64
.
Field
|
Panjang
|
Keterangan
|
1111111010000000000000000000000000000000000000000000000000000000 |
64 bit
|
Berfungsi sebagai tanda pengenal alamat unicast link-local.
|
Interface ID
|
64 bit
|
Berfungsi sebagai alamat dari sebuah node dalam subnet yang spesifik.
|
Unicast unspecified address
Alamat unicast
yang belum ditentukan adalah alamat yang belum ditentukan oleh seorang
administrator atau tidak menemukan sebuah DHCP Server untuk meminta
alamat. Alamat ini sama dengan alamat IPv4 yang belum ditentukan, yakni
0.0.0.0
. Nilai alamat ini dalam IPv6 adalah 0:0:0:0:0:0:0:0
atau dapat disingkat menjadi dua titik dua (::
).Unicast Loopback Address
Alamat unicast loopback adalah sebuah alamat yang digunakan untuk mekanisme interprocess communication (IPC) dalam sebuah host. Dalam IPv4, alamat yang ditetapkan adalah
127.0.0.1
, sementara dalam IPv6 adalah 0:0:0:0:0:0:0:1
, atau ::1
.Unicast 6to4 Address
Alamat unicast 6to4 adalah alamat yang digunakan oleh dua host IPv4 dan IPv6 dalam Internet
IPv4 agar dapat saling berkomunikasi. Alamat ini sering digunakan
sebagai pengganti alamat publik IPv4. Alamat ini aslinya menggunakan
prefiks alamat
2002::/16
, dengan tambahan 32 bit dari alamat publik IPv4 untuk membuat sebuah prefiks dengan panjang 48-bit, dengan format 2002:WWXX:YYZZ::/48
, di mana WWXX
dan YYZZ
adalah representasi dalam notasi colon-decimal format dari notasi dotted-decimal format w.x.y.z
dari alamat publik IPv4. Sebagai contoh alamat IPv4 157.60.91.123
diterjemahkan menjadi alamat IPv6 2002:9D3C:5B7B::/48
. Meskipun demikian, alamat ini sering ditulis dalam format IPv6 Unicast global address, yakni 2002:WWXX:YYZZ:SLA ID:Interface ID
.Unicast ISATAP Address
Alamat Unicast ISATAP adalah sebuah alamat yang digunakan oleh dua host IPv4 dan IPv6 dalam sebuah Intranet IPv4 agar dapat saling berkomunikasi. Alamat ini menggabungkan prefiks alamat unicast link-local, alamat unicast site-local atau alamat unicast global
(yang dapat berupa prefiks alamat 6to4) yang berukuran 64-bit dengan
32-bit ISATAP Identifier (0000:5EFE), lalu diikuti dengan 32-bit alamat
IPv4 yang dimiliki oleh interface atau sebuah host. Prefiks yang digunakan dalam alamat ini dinamakan dengan subnet prefix.
Meski alamat 6to4 hanya dapat menangani alamat IPv4 publik saja, alamat
ISATAP dapat menangani alamat pribadi IPv4 dan alamat publik IPv4.
Multicast Address
Alamat multicast IPv6 sama seperti halnya alamat multicast
pada IPv4. Paket-paket yang ditujukan ke sebuah alamat multicast akan
disampaikan terhadap semua interface yang dikenali oleh alamat tersebut.
Prefiks alamat yang digunakan oleh alamat multicast IPv6 adalah
FF00::/8
.
Field
|
Panjang
|
Keterangan
|
11111111 |
8 bit
|
Tanda pengenal bahwa alamat ini adalah alamat multicast.
|
Flags
|
4 bit
|
Berfungsi
sebagai tanda pengenal apakah alamat ini adalah alamat transient atau
bukan. Jika nilainya 0, maka alamat ini bukan alamat transient, dan
alamat ini merujuk kepada alamat multicast yang ditetapkan secara
permanen. Jika nilainya 1, maka alamat ini adalah alamat transient.
|
Scope
|
4 bit
|
Berfungsi untuk mengindikasikan cakupan lalu lintas multicast, seperti halnya interface-local, link-local, site-local, organization-local atau global.
|
Group ID
|
112 bit
|
Berfungsi sebagai tanda pengenal group multicast
|
Anycast Address
Alamat Anycast dalam IPv6 mirip dengan alamat anycast dalam IPv4, tapi diimplementasikan dengan cara yang lebih efisien dibandingkan dengan IPv4. Umumnya, alamat anycast digunakan oleh Internet Service Provider (ISP) yang memiliki banyak klien. Meskipun alamat anycast menggunakan ruang alamat unicast, tapi fungsinya berbeda daripada alamat unicast.
IPv6 menggunakan alamat anycast untuk mengidentifikasikan beberapa interface yang berbeda. IPv6 akan menyampaikan paket-paket yang dialamatkan ke sebuah alamat anycast ke interface terdekat yang dikenali oleh alamat tersebut. Hal ini sangat berbeda dengan alamat multicast, yang menyampaikan paket ke banyak penerima, karena alamat anycast akan menyampaikan paket kepada salah satu dari banyak penerima
Routing
adalah kegiatan menentukan jalur pengiriman data dalam suatu jaringan,
menentukan jumlah host dalam jaringan, dan lain-lain. Suatu router
membuat keputusan berdasarkan IP address yang dituju dan juga dari
topologi jaringan. Agar keputusan routing tersebut benar, router harus
mengenal seluruh seluk beluk jaringan (topologi). Dalam routing dinamis,
informasi tentang topologi jaringan juga diperoleh dari router yang
lain.
Jenis routing
1. Static Routing
Static routing adalah metode routing yang tabel jaringannya dibuat secara manual oleh administrator jaringannya.
2. Dinamic Routing
Dynamic
routing adalah teknik routing dengan menggunakan beberapa aplikasi
networking yang bertujuan menangani routing secara otomatis. Tabel
routing (ARP table) akan dimaintain oleh sebuah protokol routing,
biasanya daemon
A. Pengertian routing dinamic
Routing
adalah mekanisme di mana sebuah mesin bisa menemukan untuk kemudian
berhubungan dengan mesin lain. Diperlukan sebuah proses routing (distro
BSD mendukung dengan routing daemon standar routed atau misal gated
dalam hal yang lebih kompleks), atau secara mudah router dapat
dikatakan, menghubungkan dua buah jaringan yang berbeda tepatnya
mengarahkan rute yang terbaik untuk mencapai network yang diharapkan.
Dalam implementasinya, router sering dipakai untuk menghubungkan
jaringan antar lembaga atau perusahaan yang masing-masing telah memiliki
jaringan dengan network id yang berbeda. Contoh lainnya yang saat ini
populer adalah ketika suatu perusahaan akan terhubung ke internet. Maka
router akan berfungsi mengalirkan paket data dari perusahaan tersebut ke
lembaga lain melalui internet, sudah tentu nomor jaringan perusahaan
tersebut akan berebeda dengan perusahaan yang dituju.
Ø Jadi
Routing dinamis merupakan routing protocol digunakan untuk menemukan
network serta untuk melakukan update routing table pada router. Routing
dinamis ini lebih mudah daripada menggunakan routing statis dan default,
akan tetapi ada yang perbedaan dalam proses-proses di CPU router dan
penggunaan bandwidth dari link jaringan.
Ø Router Dinamis adalah
Router yang me-rutekan jalur yang dibentuk secara otomatis oleh router
itu sendiri sesuai dengan konfigurasi yang dibuat. Jika ada perubahan
topologi antar jaringan, router otomatis akan membuat ruting yang baru.
B. Routing Protokol
Routing
protocol adalah komunikasi antara router-router. Routing protocol
mengijinkan routerrouter untuk sharing informasi tentang jaringan dan
koneksi antar router.Routing
Protocol adalah protocol yang digunakan dalam dynamic routing. Secara
umum, dynamic routing protocol terbagi atas tiga kategori:
- Distance Vector
Distance vector berarti bahwa routing protocol ini dalam menetapkan jalur terbaik (the best path) hanya melibatkan jumlah hop saja (hop count) untuk me-route
paket data dari satu alamat network ke alamat network tujuan. Routing
protocol ini tidak bisa menganalisis bandwidth. Yang tergolong kategori
ini antara lain RIPv1, RIPv2, dan IGRP (Interior Gateway Routing
Protocol). Secara umum, yang tergolong dalam kategori ini adalah routing
protocol klasik.
- Link-state
Link-state
merupakan routing protocol yang lebih modern dibanding distance vector.
Routing protocol ini selain melibatkan hop count juga melibatkan
kapasitas bandwidth jaringan, serta parameter-parameter lain dalam
menentukan the best path-nya dalam aktivitas routing. Contohnya adalah
Open Shortest Path First (OSPF).
- Hybrid
Kategori
ini hadir setelah Cisco System membuat routing protocol EIGRP (Enhanced
Interior Gateway Routing Protocol) yang merupakan pengembangan dari
IGRP klasik yang bersifat open standar. EIGRP cisco ini bersifat
proprietary, hanya akan berfungsi optimal jika seluruh device router
yang digunakan bermerk cisco. Kategori ini diklaim memiliki kelebihan
yang ada baik pada Distance Vector dan juga Link-State.
C. Aktifitas Dynamic Router Protokol
Memelihara
dan meng-update tabel routing- automatic network discovery. Network
discovery adalah kemampuan routing protokol untuk membagi informasi
tentang jaringan dengan router lainnnya dengan menggunakan routing
protokol yang sama. daripada mengkonfigurasi router secara static,
routing dinamik dapat secara otomatis membaca jaringannya dari
router-router lainnya. pemilihan jalur terbaik pada setiap jaringan
terdapat pada tabel routing dengan menggunakan routing dinamik.
1. Maintaining routing tables
Setelah
mengenal jaringannya, routing dinamik akan selalu meng-update dan
menentukan jalur-jalurnya pada tabel routing. Routing dinamik tidak
hanya membuat jalur terbaik ke jaringan yang berbeda, routing dinamik
juga akan menentukan jalur baru yang baik jika tujuannya tidak tersedia
(jika topologinya berubah), untuk ini, routing dinamik mempunyai
keuntungan lebih dari routing static. router yang menggunakan dinamic
routing akan secara otomatis membagi informasi routingnya kepada router
yang lain dan menyesuaikan dengan topologi yang berubah tanpa pengaturan
dari seorang admin jaringan.
D. Kategori Protokol Routing
Ada
dua kategori protokol routing yaitu Interior Gateway Protocol (IGP) dan
Exterior Gateway Protocol (EGP). Interior Gateway Protocol merupakan
protokol routing yang menangani routing jaringan internet dalam suatu
autonomous system. Exterior Gateway Protocol merupakan protocol routing
yang menangani routing jaringan internet antar automous system. Exterior
Gateway Protocol diperlukan karena Interior Gateway Protocol tidak
dirancang untuk suatu jaringan yang sangat besar sehingga jaringan
internet perlu dibentuk ke dalam suatu hirarki dengan membagi jaringan
internet tersebut ke dalam autonomous systems. Autonomous System (AS)
secara umum didefinisikan sebagai jaringan internet yang berada dalam
satu kendali administrasi dan teknis.
E. IP routing dinamic
Ada beberapa routing dinamic untuk IP,dibawah ini adalah dinamik routing yang sering digunakan :
1. RIP
RIP : Routing
Information Protocol. Distance vector protocol – merawat daftar jarak
tempuh ke network-network lain berdasarkan jumlah hop, yakni jumlah
router yang harus lalui oleh paket-paket untuk mencapai address tujuan.
RIP dibatasi hanya sampai 15 hop. Broadcast di-update dalam setiap 30
detik untuk semua RIP router guna menjaga integritas. RIP cocok
dimplementasikan untuk jaringan kecil.

RIP
mengirim routing table yang lengkap ke semua interface yang aktif
setiap 30 detik. RIP hanya menggunakan jumlah hop untuk menentukan cara
terbaik ke sebuah network remote, tetapi RIP secara default memiliki
sebuah nilai jumlah hop maksimum yg diizinkan, yaitu 15, berarti nilai
16 tidak terjangkau (unreachable). RIP bekerja baik pada jaringan kecil,
tetapi RIP tidak efisien pada jaringan besar dengan link WAN atau
jaringan yang menggunakan banyak router.
RIP
v1 menggunakan clasfull routing, yang berarti semua alat di jaringan
harus menggunkan subnet mask yang sama. Ini karena RIP v1 tidak mengirim
update dengan informasi subnet mask di dalamnya. RIP v2 menyediakan
sesuatu yang disebut prefix routing, dan bisa mengirim informasi subnet
mask bersama dengan update-update dari route. Ini disebut classless
routing.
Rip terbagi 2 yaitu:
· rip
versi 1 merupakan bagian dari distance vektor yang mencari hop
terpendek atau router terbaik,rip versi 1 juga merupakan class pul
routing.
· rip
versi 2 merupakan bagian dari distance vektor yang mencari hop
terpendek atau router terbaik,rip versi2 juga merupakan class list
routing.
RIP memiliki beberapa keterbatasan, antara lain:
· METRIC:
Hop CountRIP menghitung routing terbaik berdasarkan hop count dimana
belum tentu hop count yang rendah menggunakan protokol LAN yang bagus,
dan bisasaja RIP memilih jalur jaringan yang lambat.
· > Hop Count Limit RIP tidak dapat mengatur hop lebih dari 15. Hal ini digunakan untuk mencegah loop pada jaringan.
· Classful Routing Only RIP menggunakan classful routing ( /8, /16, /24 ). RIP tidak dapat mengatur classless routing.
Untuk menerapkan RIP pada router, berikut perintahnya :
router(config)#router rip
Untuk menerapkan RIP tersebut ke suatu network address, berikut perintahnya :
router(config-router)#networknetwork_id
Sebagai contoh penerapan pada jaringan WAN, berikut perhatikan gambar dibawah ini :
Sebagai contoh penerapan pada jaringan WAN, berikut perhatikan gambar dibawah ini :
Cara mengkonfigurasikan RIP untuk Router 1 sebagai brikut :
router1(config)#ip routing
router1(config)#router rip
router1(config-router)#network 215.10.20.0
router1(config-router)#network 215.10.10.0
router1(config-router)#exit
router1#write mem
2. OSPF

OSPF : Open
Shortest Path First. Link state protocol—menggunakan kecepatan jaringan
berdasarkan metric untuk menetapkan path-path ke jaringan lainnya.
Setiap router merawat map sederhana dari keseluruhan jaringan.
Update-update dilakukan via multicast, dan dikirim. Jika terjadi
perubahan konfigurasi. OSPF cocok untuk jaringan besar.
OSPF
adalah sebuah protocol standar terbuka yg telah dimplementasikan oleh
sejumlah vendor jaringan. Jika Anda memiliki banyak router, dan tidak
semuanya adalah cisco, maka Anda tidak dapat menggunakan EIGRP, jadi
pilihan Anda tinggal RIP v1, RIP v2, atau OSPF. Jika itu adalah jaringan
besar, maka pilihan Anda satu-satunya hanya OSPF atau sesuatu yg
disebut route redistribution-sebuah layanan penerjemah antar-routing
protocol.
OSPF
bekerja dengan sebuah algoritma yang disebut algoritma Dijkstra.
Pertama sebuah pohon jalur terpendek (shortest path tree) akan dibangun,
dan kemudian routing table akan diisi dengan jalur-jalur terbaik yg
dihasilkan dari pohon tesebut. OSPF hanya mendukung routing IP saja.
3. IGRP

IGRP: IGRP
merupakan distance vector IGP. Routing distance vector mengukur jarak
secara matematik. Pengukuran ini dikenal dengan nama distance vector.
Router yang menggunakan distance vector harus mengirimkan semua atau
sebagian table routing dalam pesan routing update dengan interval waktu
yang regular ke semua router tetangganya.
Isi dari informasi routing adalah:
a. Identifikasi tujuan baru,
b. Mempelajari apabila terjadi kegagalan.
IGRP
adalah routing protokol distance vector yang dibuat oleh Cisco. IGRP
mengirimkan update routing setiap interval 90 detik. Update ini
advertise semua jaringan dalam AS.
Kunci desain jaringan IGRP adalah:
· Secara otomatis dapat menangani topologi yang komplek,
· Kemampuan ke segmen dengan bandwidth dan delay yang berbeda,
· Skalabilitas, untuk fungsi jaringan yang besar.
Secara
default, IGRP menggunakan bandwidth dan delay sebagai metric. Untuk
konfigurasi tambahan, IGRP dapat dikonfigurasi menggunakan kombinasi
semua varibel atau yang disebut dengan composite metric.
Variabel-variabel itu misalnya: bandwidth, delay, load, reliability
IGRP
yang merupakan contoh routing protokol yang menggunakan algoritma
distance vector yang lain. Tidak seperti RIP, IGRP merupakan routing
protokol yang dibuat oleh Cisco. IGRP juga sangat mudah
diimplementasikan, meskipun IGRP merupakan routing potokol yang lebih
komplek dari RIP dan banyak faktor yang dapat digunakan untuk mencapai
jalur terbaik dengan karakteristik sebagai berikut:
· Protokol Routing Distance Vector,
· Menggunakan composite metric yang terdiri atas bandwidth, load, delay dan reliability,
· Update routing dilakukan secara broadcast setiap 90 detik.
Tujuan dari IGRP yaitu:
· Penjaluran stabil dijaringan kompleks sangat besar dan tidaka ada pengulangan penjaluran.
· Overhead rendah, IGRP sendiri tidak menggunakan bandwidth yang diperlukan untuk tugasnya.
· Pemisahan lalu lintas antar beberapa rute paralel.
· Kemampuan untuk menangani berbagai jenis layanan dengan informasi tunggal.
· Mempertimbangkan menghitung laju kesalahan dan tingkat lalu lintas pada alur yang berbeda.
4. EIGRP

EIGRP: EIGRP
(Enhanced Interior Gateway Routing Protocol) adalah routing protocol
yang hanya di adopsi oleh router cisco atau sering disebut sebagai
proprietary protocol pada cisco. Dimana EIGRP ini hanya bisa digunakan
sesama router cisco saja.
EIGRP
sering disebut juga hybrid-distance-vector routing protocol, karena
EIGRP ini terdapat dua tipe routing protocol yang digunakan, yaitu:
distance vector dan link state.EIGRP dan IGRP dapat di kombinasikan satu
sama lain karena EIGRP adalah hanya pengembangan dari IGRP. Dalam
perhitungan untuk menentukan path/jalur manakah yang tercepat/terpendek,
EGIRP menggunakan algortima DUAL (Diffusing-Update Algorithm) dalam
menentukannya.
EIGRP mempunyai 3 table dalam menyimpan informasi networknya:
· neighbor table,
· topology table,
· routing table
EIGRP menggunakan protokol routing enhanced distance vector, dengan karakteristik sebagai berikut:
· Menggunakan protokol routing enhanced distance vector.
· Menggunakan cost load balancing yang tidak sama.
· Menggunakan algoritma kombinasi antara distance vector dan link-state.
· Menggunakan Diffusing Update Algorithm (DUAL) untuk menghitung jalur terpendek.
5. BGP

BGP : Border
Gateway Protocol atau yang sering disingkat BGP merupakan salah satu
jenis routing protocol yang ada di dunia komunikasi data. Sebagai sebuah
routing protocol, BGP memiliki kemampuan melakukan pengumpulan rute,
pertukaran rute dan menentukan rute terbaik menuju ke sebuah lokasi
dalam jaringan. Routing protocol juga pasti dilengkapi dengan algoritma
yang pintar dalam mencari jalan terbaik. Namun yang membedakan BGP
dengan routing protocol lain seperti misalnya OSPF dan IS-IS ialah, BGP
termasuk dalam kategori routing protocol jenis Exterior Gateway Protocol
(EGP).BGP merupakan distance vector exterior gateway protocol yang
bekerja secara cerdas untuk merawat path-path ke jaringan lainnya. Up
date-update dikirim melalui koneksi TCP.
F. Kelebihan dan kekurangan dari contoh Routing dinamis
1. Routing Information Protocol (RIP)

Ø RIP
menggunakan metode Triggered Update. RIP memiliki timer untuk
mengetahui kapan router harus kembali memberikan informasi routing. Jika
terjadi
perubahan pada jaringan, sementara timer belum habis, router tetap
harus mengirimkan informasi routing karena dipicu oleh perubahan
tersebut (triggeredupdate)Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit
dan memberikan hasil yangcukup dapat diterima, terlebih jika jarang
terjadi kegagalan link jaringan

Ø Jumlah
host Terbatas. RIP tidak memiliki informasi tentang subnet setiap
route.RIP tidak mendukung Variable Length Subnet Masking (VLSM). Ketika
pertama kali dijalankan hanya mengetahui cara routing ke dirinya sendiri
(informasi lokal) dan tidak mengetahui topologi jaringan tempatnya
berada.
2. Interior Gateway Routing Protocol (IGRP)

Ø support = 255 hop count

Ø Jumlah Host terbatas
3.Open Shortest Path First (OSPF)

Ø tidak menghasilkan routing loop mendukung penggunaan beberapa metrik
sekaligus
dapat menghasilkan banyak jalur ke sebuah tujuan membagi jaringan yang
besar mejadi beberapa area. Waktu yang diperlukan untuk konvergen lebih
cepat

Ø Membutuhkan basis data yang besar. Lebih rumit
4. Enchanced Interior Gatway Routing Protocil (EIGRP)

Ø melakukan
konvergensi secara tepat ketika menghindari loop. Memerlukan lebih
sedikit memori dan proses. Memerlukan fitur loop avoidance

Ø Hanya untuk Router Cisco
5. BorderGateway Protocol (BGP)

Ø Sangat sederhana dalam instalasi

Ø Sangat terbatas dalam mempergunakan topologi
G. IS-IS (Intermediate System-to-Intermediate System)
IS-IS
adalah Organisasi Internasional untuk Standarisasi (ISO) spesifikasi
router dinamis. IS-IS digambarkan dalam ISO/IEC 10589 IS-IS jaringan
protokol router antar jaringan Negara yang berfungsi sebagai informasi
jaringan Negara. Melalui jaringan tersebut untuk membikin sebuah
topologi jaringan. IS-IS maksud utamanya untuk penghubung OSI paket dari
CNLP (connectionless Network Protokol) tapi telah mempunyai kapasitas
untuk menghubungkan paket IP. Ketika paket IP terintegrasi dalam IS-IS
menyediakan kemampuan untuk menghubungkan protokol luar dari OSI family
seperti IP. Serupa dengan OSPF, IS-IS didirikan sebuah arsitektur
hierarki dari jaringan tersebut. IS-IS menghasilkan dua tingkatan level,
level (1) untuk dalam area dan level (2) untuk antar area.
IS-IS
dibedakan antara penghubung L1 dan L2. suatu router dinamakan IS dalam
IS-IS. L1 IS-IS mengkomunikasikan dengan L1 IS yang lainnya didaerah
yang sama. Jalur L2 IS – IS diantara area L1 dan bentuk dari sebuah
backbone routing intra domain. Hierarki routing disederhakan design
backbone karena L1 IS-IS hanya menginginkan untuk mengetahui bagaimana
mendapatkan L2 IS – IS terdekat.
Dalam IS-IS, suatu router biasanya disebut Intermediate System (IS) PC, workstation, serta servers dan End System (ES).
H. Perbandingan routing static dan dinamic
Static Routingr
meneruskan paket dari sebuah network ke network yang lainnya
berdasarkan rute (catatan: seperti rute pada bis kota) yang ditentukan
oleh administrator. Rute pada static routing tidak berubah, kecuali jika
diubah secara manual oleh administrator.
Kekurangan dan kelebihan static routing:
1.Dengan menggunakan next hop
Kelebihan:
Dapat mencegah trjadinya eror dalam meneruskan paket ke router tujuan
apabila router yang akan meneruskan paket memiliki link yang terhubung
dengan banyak router.itu disebabkan karena router telah mengetahui next
hop, yaitu ip address router tujuan
Kekurangan:
Static routing yang menggunakan next hop akan mengalami multiple lookup
atau lookup yg berulang. lookup yg pertama yang akan dilakukan adalah
mencari network tujuan,setelah itu akan kembali melakukan proses lookup
untuk mencari interface mana yang digunakan untuk menjangkau next
hopnya.
2.Dengan menggunakan exit interface
Kelebihan:
Proses lookup hanya akan terjadi satu kali saja ( single lookup )
karena router akan langsung meneruskan paket ke network tujuan melalui
interface yang sesuai pada routing table
Kekurangan:
Kemungkinan akan terjadi eror keteka meneruskan paket. jika link router
terhubung dengan banyak router, maka router tidak bisa memutuskan
router mana tujuanya karena tidak adanya next hop pada tabel routing.
karena itulah, akan terjadi eror.
routing
static dengan menggunakan next hop cocok digunakan untuk jaringan
multi-access network atau point to multipoint sedangkan untuk jaringan
point to point, cocok dengan menggunakan exit interface dalam
mengkonfigurasi static route.
recursive
route lookup adalah proses yang terjadi pada routing tabel untuk
menentukan exit interface mana yang akan digunakan ketika akan
meneruskan paket ke tujuannya.
Dynamic Routingr
mempelajari sendiri Rute yang terbaik yang akan ditempuhnya untuk
meneruskan paket dari sebuah network ke network lainnya. Administrator
tidak menentukan rute yang harus ditempuh oleh paket-paket tersebut.
Administrator hanya menentukan bagaimana cara router mempelajari paket,
dan kemudian router mempelajarinya sendiri. Rute pada dynamic routing
berubah, sesuai dengan pelajaran yang didapatkan oleh router.Apabila
jaringan memiliki lebih dari satu kemungkinan rute untuk tujuan yang
sama maka perlu digunakan dynamic routing. Sebuah dynamic routing
dibangun berdasarkan informasi yang dikumpulkan oleh protokol routing.
Protokol ini didesain untuk mendistribusikan informasi yang secara
dinamis mengikuti perubahan kondisi jaringan. Protokol routing mengatasi
situasi routing yang kompleks secara cepat dan akurat. Protokol routng
didesain tidak hanya untuk mengubah ke rute backup bila rute utama
tidak berhasil, namun juga didesain untuk menentukan rute mana yang
terbaik untuk mencapai tujuan tersebut.
Langganan:
Postingan (Atom)